
PhoneSeorang anak lelaki masuk ke sebuah apotek, menarik peti minuman dan meletakkannya di dekat telepon umum. Ia naik ke atasnya sehingga dapat mencapai tombol-tombol yang ada pada telepon. Lalu mulailah ia menekan tombol sampai tujuh dijit. Saya menyimak percakapannya. Ia berkata, "Bu, apakah Anda membutuhkan bantuan untuk membersihkan kebun Anda?"Wanita di telepon itu menjawab, "Saya sudah membayar seseorang untuk membersihkannya." "Bu, Anda dapat membayar saya setengah harga saja." Sepertinya wanita itu sudah puas dengan hasil kerja dari orang tersebut.
Namun anak itu tak kenal putus asa dan menawarkan, “Bu, saya juga akan menyapu pinggiran jalan dan trotoar rumah Anda, sehingga pada hari Minggu nanti Anda akan memiliki halaman terindah di North Palm Beach, Florida.”Lagi-lagi wanita itu menolak. Dengan senyum, anak itu meletakkan gagang telepon.
Sang pemilik apotek menghampiri anak itu dan berkata, “Nak, saya suka sikapmu itu. Saya mengagumi semangat yang kaumiliki. Bagaimana kalau kamu bekerja untuk saya saja?” Anak itu menjawab, “Tidak, Pak. Terima kasih. Sebenarnya saya hanya mengecek hasil pekerjaan saya sendiri.”
Oleh (c) Dr. Eric Scott Kaplan
Kisah ini dikutip dari buku “Embun bagi Jiwa #1″
Renungkanlah cerita singkst tadi, apa yang bisa kita dapat dari cerita itu?
Kalo ana simpulkan sih, dari cerita itu kita bisa belajar bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan kita kadang mengabaikan apakah orang lain puas dengan pekerjaan kita? Sehingga kita tidak pernah merenung untuk mengevaluasi apa yang telah kita kerjakan. Sebenarnya kita sangat perlu untuk mengevaluasi diri agar kita bisa memperbaiki kualitas hasil pekerjaan kita dan menambah kekuranganya.










